• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Jumat, 16 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Headline

Akademisi UGM Soroti Pemilu Melanggengkan Oligarki Elite Partai

17 November 2025
in Headline, Politik
0
Akademisi UGM Soroti Pemilu Melanggengkan Oligarki Elite Partai

Peluncuran dan bedah buku “Polikrisis Demokrasi: Neraca Kasus Indonesia”, yang menjadi bagian dari rangkaian Research Week Fisipol UGM 2025, di auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM)/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Yogyakarta– Demokrasi sering diidentikkan dengan proses pelaksanaan pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan setiap periode lima tahunan.

Pesta demokrasi yang diharapkan menjadi wujud partisipasi rakyat, justru dimanfaatkan sebagai sarana untuk melegitimasi kekuasaan kelompok oligarki elite partai. Pasalnya, kekuasaan kerap kembali ke tangan oligarki, menjadikan demokrasi di Indonesia masih bersifat prosedural, belum substantif.

Hal itu mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku “Polikrisis Demokrasi: Neraca Kasus Indonesia”, yang menjadi bagian dari rangkaian Research Week Fisipol UGM 2025, di auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM).

Buku yang ditulis oleh 34 penulis yang merupakan para akademisi dan praktisi ini, mengungkapkan soal pergeseran makna demokrasi di Indonesia semakin nyata melalui berbagai kasus yang muncul, mencerminkan kompleksitas praktik demokrasi itu sendiri.

“Hasil pemikiran dari 34 penulis, buku ini melibatkan lintas ilmu politik, kebijakan publik, sosiologi, komunikasi, hubungan internasional, hingga sejarah dari pandangan para akademisi UGM,” kata editor buku, Dosen Sosiologi UGM, Dr. Kuskridho Ambardi, M.A, Senin (10/11).

Dodi Ambardi, demikian ia akrab disapa, menjelaskan bahwa gagasan awal penulisan buku ini berangkat dari pandangan pesimis sebagian orang terhadap kondisi demokrasi global sekarang ini.

“Demokrasi sering dipahami secara sempit melalui konsep defining democracy atau consolidated democracy,” ujarnya.

Ia menilai bahwa demokrasi selama ini sering digeneralisasi, padahal praktik di setiap negara dan daerah memiliki variasi tersendiri. Konsep polikrisis yang diangkat dalam buku ini diadaptasi dari konteks Eropa.

“Kita tidak menghadapi krisis imigran seperti Eropa, tetapi dihadapkan pada krisis globalisasi, radikalisasi, dan ekonomi. Semua krisis ini tumpang tindih dan saling memengaruhi sehingga membentuk kondisi polikrisis khas Indonesia,” ujarnya.

Hasrul Hanif, Ph.D., salah satu penulis buku sekaligus dosen Departemen Politik dan Pemerintahan UGM, menceritakan tulisannya meninjau berbagai cara mengukur kualitas demokrasi dan menunjukkan bahwa demokrasi memiliki banyak tafsir. Ia membedakan antara demokrasi sebagai praktik empiris dan demokrasi sebagai ideal normatif.

Menurutnya, konteks ruang dan waktu sangat penting dalam menilai kualitas demokrasi karena realitas politik selalu berubah. Ia menyoroti pergeseran yang terjadi di Indonesia dengan munculnya New Developmentalism liberalisasi ekonomi berjalan berdampingan dengan kontrol negara yang masih kuat.

Dua pendekatan utama dalam mengukur demokrasi, lanjutnya, adalah comparative assessment (penilaian ahli) dan democracy audit (penilaian partisipatif publik). Dulu, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) sempat mengadopsi semangat partisipatif, namun kini cenderung menjadi sekadar angka statistik.

Menyinggung soal pelaksanaan pemilu, Ahmad Shidqi, S.Th.I., M.Hum., selaku Ketua KPU DIY mengulas perjalanan demokrasi Indonesia sejak reformasi 1998.

Kejadian yang menjadi tonggak awal demokrasi ialah setelah masa Orde Baru. Pemilu 1999, katanya, masih menghadapi kebuntuan karena KPU saat itu berisi unsur partai politik. Reformasi sistem pemilu selanjutnya menjadikan lembaga ini lebih independen dan teknis sehingga penyelenggaraan pemilu kini semakin transparan profesional.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa setelah pemilu, kekuasaan kerap kembali ke tangan oligarki, menjadikan demokrasi kita masih bersifat prosedural, belum substantif.

Ia mengajak peserta untuk merenung mencari bentuk sebenarnya yang ditawarkan demokrasi bagi rakyat.

“Indeks Demokrasi Indonesia mungkin tinggi di atas kertas, tetapi kenyataan di lapangan sering menunjukkan paradoks,” tekannya.

Tags: #demokrasi#Indonesia#oligarki#pemilihan umum#Universitas Gadjah Mada
Previous Post

PNBP Sektor ESDM Capai Rp200,66 Triliun

Next Post

Hadapi Angkutan Nataru, Kemenhub-Polri Siapkan Sejumlah Langkah Strategis

Next Post
One Way Arus Mudik Ditutup, Menhub Imbau Masyarakat Pulang Lebih Awal

Hadapi Angkutan Nataru, Kemenhub-Polri Siapkan Sejumlah Langkah Strategis

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

16 Oktober 2026
Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

16 Oktober 2026
Ekonom UGM Usulkan 3 Langkah ke Pemerintah Jaga Defisit Neraca Pembayaran

Hingga Agustus 2026, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.242 Triliun

16 Oktober 2026
Uji Coba Penyaluran Bansos di Kopdes Merah Putih, Mensos Pastikan Tanpa Potongan

Uji Coba Penyaluran Bansos di Kopdes Merah Putih, Mensos Pastikan Tanpa Potongan

16 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .