PEKANBARU — Antusiasme pekebun kelapa sawit di Kabupaten Bengkalis, Riau, untuk meningkatkan kemampuan mengelola kebun terus meningkat. Tingginya minat mengikuti pelatihan mendorong Pemerintah Kabupaten Bengkalis berharap pemerintah pusat menambah kuota peserta Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Harapan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan VI Tahun 2026 yang diselenggarakan BPDP bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB) di Pekanbaru. Sebanyak 30 pekebun asal Bengkalis mengikuti pelatihan selama sepekan. Bersama dua angkatan sebelumnya, total 91 pekebun dari kabupaten itu memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi budidaya sawit.
Sekretaris Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Dahen Tawakal, mengatakan seluruh peserta pada angkatan IV, V, dan VI berasal dari Bengkalis. Menurut dia, hal itu menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut sekaligus tingginya minat pekebun untuk meningkatkan kemampuan mengelola kebun.
“Alhamdulillah peserta angkatan empat, lima, dan enam seluruhnya berasal dari Kabupaten Bengkalis. Kami berterima kasih karena seluruh usulan dari Bengkalis dapat mengikuti pelatihan ini,” kata Dahen.
Meski demikian, ia mengakui jumlah peserta masih jauh dari kebutuhan. Minat kelompok tani terus meningkat, sedangkan kuota pelatihan masih terbatas. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bengkalis berharap alokasi peserta dapat ditambah pada tahun mendatang agar semakin banyak pekebun memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan.
“Tahun depan kami berharap jumlah peserta dari Bengkalis bisa lebih banyak lagi. Antusiasme pekebun kami mengikuti pelatihan budidaya maupun pelatihan lainnya sangat tinggi,” ujarnya.
Menurut Dahen, 91 peserta yang mengikuti pelatihan merupakan perwakilan dari ratusan pekebun yang ingin memperoleh kesempatan serupa. Karena itu, mereka diharapkan tidak hanya menyerap materi, tetapi juga menjadi agen penyebar pengetahuan di kelompok tani masing-masing.
Ia meminta peserta membagikan ilmu yang diperoleh kepada anggota kelompok sehingga manfaat pelatihan dapat dirasakan lebih luas.
“Peserta yang hadir hari ini adalah orang-orang yang mendapat kesempatan. Kami berharap ilmu yang diperoleh nanti dibagikan kepada anggota kelompok tani lainnya sehingga semakin banyak pekebun yang menerapkan teknik budidaya yang baik,” katanya.
Menurut Dahen, pendekatan tersebut menjadi cara efektif mempercepat peningkatan kualitas SDM perkebunan, terutama ketika jumlah peserta pelatihan belum mampu menjangkau seluruh pekebun. Dengan semakin banyak petani menerapkan praktik budidaya yang baik, produktivitas kebun rakyat diyakini akan meningkat, diikuti kenaikan pendapatan dan kesejahteraan keluarga pekebun.
Pelatihan tidak hanya berisi materi di ruang kelas. Direktur Utama PT Sumberdaya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan peserta juga mengikuti praktik lapangan melalui kunjungan ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Sakti di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Kelompok tani tersebut telah mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan menjadi contoh penerapan budidaya sawit berkelanjutan.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori, tetapi melihat langsung bagaimana praktik budidaya yang baik diterapkan di lapangan. Mereka juga bisa berdiskusi mengenai manfaat, peluang, dan tantangan dalam menerapkan ISPO,” ujar Andi.
Ia menjelaskan seluruh materi pelatihan mengacu pada kurikulum Direktorat Jenderal Perkebunan. Selain teknik budidaya, peserta dibekali materi mengenai peningkatan produktivitas tanaman, kualitas tandan buah segar (TBS), penguatan kelembagaan pekebun, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, hingga strategi meningkatkan daya saing kebun rakyat.
Melalui kombinasi pembelajaran di kelas dan praktik lapangan, pemerintah berharap peserta mampu menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten serta mengelola kebun sebagai usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Program pengembangan SDM yang didukung BPDP menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperkecil kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan. Peningkatan kapasitas pekebun dipandang sebagai investasi jangka panjang karena keberhasilan industri sawit ke depan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh kemampuan petani mengelola kebun secara profesional.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bengkalis, tingginya minat mengikuti pelatihan menjadi sinyal positif bahwa kesadaran pekebun terhadap pentingnya peningkatan kompetensi terus tumbuh. Tantangan berikutnya adalah memperluas akses pelatihan agar semakin banyak petani memperoleh kesempatan belajar.
Dahen optimistis ilmu yang dibawa pulang para peserta akan memicu perubahan di tingkat kelompok tani. “Harapan kami sederhana. Ilmu yang dibawa pulang benar-benar diterapkan dan dibagikan kepada pekebun lainnya. Kalau itu dilakukan secara konsisten, produktivitas kebun akan meningkat, hasil panen menjadi lebih baik, dan kesejahteraan petani sawit di Bengkalis juga ikut meningkat,” ujarnya.
Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit, pelatihan semacam ini menjadi investasi penting bagi pengembangan manusia. Semakin banyak pekebun yang menguasai teknik budidaya modern, semakin besar peluang kebun rakyat menjadi penopang utama daya saing sawit Indonesia di masa depan.













