PEKANBARU — Produktivitas menjadi kunci masa depan industri kelapa sawit Indonesia. Di tengah semakin terbatasnya ruang ekspansi lahan, pemerintah mengarahkan peningkatan produksi melalui optimalisasi kebun rakyat dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) pekebun.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB). Sebanyak 91 pekebun asal Kabupaten Bengkalis, Riau, mengikuti pelatihan selama sepekan dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan IV, V, dan VI Tahun 2026 yang didanai BPDP.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Iim Mucharam, dalam sambutan yang dibacakan Ketua Tim Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas Direktorat Jenderal Perkebunan, Tulus Tri Margono, mengatakan peningkatan produktivitas merupakan strategi utama pemerintah menjaga daya saing industri sawit nasional.
Menurut dia, Indonesia memiliki sekitar 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit. Namun, produktivitas kebun rakyat masih tertinggal dibandingkan perkebunan perusahaan. Karena itu, pembangunan sektor sawit kini tidak lagi bertumpu pada pembukaan lahan baru, melainkan pada optimalisasi kebun yang sudah ada.
“Kita masih mempunyai peluang yang sangat besar untuk meningkatkan produksi nasional melalui peningkatan produktivitas kebun yang sudah eksisting,” ujarnya.
Iim menjelaskan berbagai persoalan masih dihadapi pekebun, mulai dari penggunaan benih yang belum bersertifikat, pemupukan yang belum sesuai rekomendasi, pemeliharaan tanaman yang kurang optimal, hingga teknik panen yang belum memenuhi standar. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan akses pembiayaan, lemahnya kelembagaan pekebun, serta minimnya pengetahuan mengenai pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Karena itu, pengembangan SDM menjadi salah satu prioritas pemerintah. Menurutnya, keberhasilan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh benih unggul dan teknologi, tetapi juga kemampuan pekebun menerapkan praktik budidaya yang baik di lapangan.
“Pelatihan seperti ini harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi pekebun. Jangan berhenti di ruang kelas. Setelah kembali ke kebun harus ada perubahan nyata,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa selain meningkatkan produktivitas, pekebun kini dituntut menerapkan prinsip keberlanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Pemerintah memberikan masa transisi hingga 2029 bagi kelompok pekebun untuk memenuhi standar tersebut.
Direktur Utama PT Sumberdaya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pelatihan tidak hanya berisi materi di kelas, tetapi juga praktik lapangan melalui kunjungan ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Sakti di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, yang telah memperoleh sertifikasi ISPO.
Menurut Andi, pendekatan tersebut dipilih agar peserta dapat melihat langsung penerapan teknik budidaya yang benar sekaligus memahami manfaat dan tantangan penerapan ISPO.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori, tetapi melihat langsung bagaimana praktik budidaya yang baik diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan seluruh materi pelatihan mengacu pada kurikulum Direktorat Jenderal Perkebunan, meliputi teknik budidaya, penguatan kelembagaan pekebun, praktik perkebunan berkelanjutan, peningkatan kualitas tandan buah segar (TBS), hingga strategi meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, menilai peningkatan produktivitas merupakan tantangan terbesar perkebunan sawit saat ini. Dengan semakin terbatasnya peluang pembukaan lahan baru, peningkatan produksi hanya dapat dicapai melalui perbaikan pengelolaan kebun yang telah ada.
Menurut dia, kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan masih cukup lebar. Padahal, melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten, produktivitas kebun rakyat dapat mendekati bahkan menyamai kebun perusahaan.
“Boleh tidak kita bercita-cita petani sawit lebih sejahtera? Tentu boleh. Kuncinya ada pada cara kita mengelola kebun,” katanya.
Supriadi menambahkan, peningkatan produktivitas akan berdampak langsung pada kenaikan pendapatan pekebun, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit dalam negeri untuk mendukung program biodiesel. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila petani mampu meningkatkan hasil dan kualitas produksi.
Selain kemampuan teknis, ia juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani agar memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam rantai industri sawit.
Pelatihan di Pekanbaru merupakan bagian dari implementasi Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didanai BPDP sesuai Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 43/Kpts/KB.330/E/03/2026. PT Sumberdaya Indonesia Berjaya sendiri telah ditetapkan sebagai lembaga pelatihan perkebunan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 59/Kpts/PP.140/E/06/2025.
Melalui program ini, pemerintah berharap pengetahuan yang diperoleh para peserta tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi diterapkan di kebun masing-masing. Dengan meningkatnya kompetensi pekebun, produktivitas kebun rakyat diharapkan terus meningkat, memperkuat daya saing industri sawit nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.













