• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Jumat, 16 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Headline

Waka MPR Soroti Pentingnya Reforma Agraria untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat

10 September 2026
in Headline, Hukum
0
Waka MPR Soroti Pentingnya Reforma Agraria untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti pentingnya reforma agraria untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Reforma agraria merupakan agenda konstitusional yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar program sertifikasi tanah.

“Reforma agraria adalah kewajiban konstitusional negara untuk menata ulang struktur penguasaan tanah yang timpang. Kegagalan menjalankannya harus segera diatasi demi merealisasikan amanah konstitusi,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Reforma Agraria Sebagai Agenda Konstitusi: Tanah untuk Keadilan, Bukan Sekadar Sertifikasi yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (9/9).

Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri, S.H., LL.M (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Dr. Ir. Embun Sari, S.H., M.Si., M.H. (Direktur Jenderal Penataan Agraria Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional/ATR/BPN), dan Prof. Dr. Maria S.W. Sumardjono, S.H., M.C.L., M.P.A. (Guru Besar Hukum Agraria UGM) sebagai narasumber.

Selain itu, hadir pula Yayan Hidayat (Kepala Divisi Perluasan Politik Aliansi Masyarakat Adat Nusantara/AMAN) sebagai penanggap.

Menurut Lestari, negara berkewajiban secara struktural untuk menata ulang ketimpangan penguasaan tanah, bukan sekadar menerbitkan sertifikat.

Rerie, sapaan akrab Lestari, mengungkapkan keprihatinannya atas capaian redistribusi tanah yang rendah.

Dari target Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) sebesar 9 juta hektare yang sejak awal dibagi dua—4,5 juta hektare legalisasi aset dan 4,5 juta hektare redistribusi—capaian redistribusi dari pelepasan kawasan hutan hanya terealisasi 9,26% dari target nasional 4,1 juta hektare.

“Ini menjelaskan alasan jutaan sertifikat telah terbit sementara itu ketimpangan penguasaan tanah tidak bergeser,” ujar Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu juga prihatin atas melonjaknya tindak kekerasan dan kriminalisasi terkait terjadinya konflik agraria.

Catatan Akhir Tahun (CATAHU) 2025 yang dirilis Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengungkap bahwa 736 korban dengan rincian 404 orang dikriminalisasi, 312 dianiaya, 19 ditembak, dan satu meninggal dunia.

“Selama negara hanya sanggup menerbitkan sertifikat tanpa berani menata ulang struktur, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sulit diwujudkan. Kolaborasi kuat semua pihak terkait sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya dan menghadirkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Rerie.

Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Masyarakat

Direktur Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN, Embun Sari, mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan reforma agraria dengan menata penggunaan dan pemanfaatan tanah agar lebih berkeadilan.

Menurut Embun, melalui pendataan aset dan penataan akses tanah diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah, ujar Embun, hingga saat ini sudah melaksanakan penataan 6,2 juta bidang tanah untuk didistribusikan dan legalisasi.

Menurut Endah, pada rentang 2020-2025, pemerintah sudah membantu 505 ribu kepala keluarga terkait kepemilikan tanah.

Reforma agraria, jelas Embun, dilakukan secara bertahap mulai verifikasi data kepemilikan, pemanfaatan dan status tanah, koordinasi lintas sektor, redistribusi tanah, serta pemberdayaan masyarakat.

Diakui Embun, dibutuhkan payung hukum yang jelas dan koordinasi kuat semua pihak terkait untuk menuntaskan reforma agraria yang harus melalui tahapan yang panjang itu.

Guru Besar Hukum Agraria UGM Prof. Dr. Maria S.W. Sumardjono berpendapat bahwa dalam mengatasi konflik agraria, harus benar-benar berpijak pada Pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa hak penguasaan negara atas tanah harus meliputi upaya pembuatan kebijakan, mengatur, dan mengurus kepastian kepemilikan tanah.

Penguasaan sumber-sumber daya alam termasuk lahan, jelas Maria, juga harus sepenuhnya untuk menyejahterakan rakyat.

Sehingga, negara harus menjamin kepemilikan lahan rakyat serta pengembalian hak-hak rakyat yang dimiliki rakyat secara turun-temurun, sebagai bagian upaya menjalankan amanat konstitusi.

Menurut dia, konflik agraria terjadi karena sumbernya terbatas dan biasanya kelompok masyarakat marginal selalu dalam posisi rentan dalam konflik tersebut.

“Jadi, kalau terjadi konflik agraria, negara wajib melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Maria.

Kepala Divisi Perluasan Politik AMAN Yayan Hidayat berpendapat bahwa reforma agraria sejatinya untuk tujuan menghadirkan sistem pemanfaatan, kepemilikan sumber-sumber agraria yang adil.

Sehingga, jelas Yayan, reforma agraria tidak berupa pembagian tanah semata.

Saat ini, menurut Yayan, reforma agraria terjebak pada penguasaan dominan yang memunculkan ketimpangan dalam penguasaan sumber-sumber agraria antara masyarakat adat, korporasi, dan negara.

Dalam konteks kepemilikan tanah bagi masyarakat adat, ujar Yayan, sangat terkait dengan pengakuan, pemulihan, dan pengembalian aset-aset agraria masyarakat adat.

Menurut Yayan, perbedaan pemahaman para pihak terkait tentang reforma agraria menjadi pemicu konflik agraria di tanah air.

Sehingga, tegas dia, kerap terjadi penerbitan sertifikat kepemilikan lahan di atas wilayah masyarakat adat.

Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat bahwa masalah reforma agraria mendapatkan perhatian banyak pihak dan sensitif bagi masyarakat.

Hal itu, ujar dia, terlihat dari hadirnya 300-an peserta diskusi daring yang mengambil tema tentang reforma agraria ini.

Karena itu, ujar Saur, dalam pembahasan RUU Agraria yang sedang berlangsung harus melibatkan partisipasi publik yang dibuka secara luas dan tajam.

Berdasarkan pandangan AMAN, ujar Saur, terlihat betapa kompleksnya pemahaman terkait reforma agraria di tanah air.

Karena itu, tegas Saur, keterburu-buruan dalam pembahasan RUU Agraria harus disertai dengan intensitas membuka diri dari DPR dan dengan tulus.

Salah satu poin yang harus dipertimbangkan oleh DPR, ujar Saur, mengenai putusan yang final dan mengikat dalam konflik agraria. Menurut Saur, hal itu berbahaya.

Karena, tegas dia, konflik yang begitu rumit jika diputuskan dengan cara tidak ada lagi jalan untuk mencari keadilan akan melahirkan konflik-konflik baru.

 

Tags: #kesejahteraan#Lestari Moerdijat#Masyarakat#Reforma Agraria#Wakil Ketua MPR
Previous Post

Menaker: Data Survei Angkatan Kerja Nasional Penting untuk Kebijakan Ketenagakerjaan Tepat Sasaran

Next Post

Prabowo Tegaskan Pentingnya Jaga Persatuan dan Kerukunan dalam Kehidupan Demokrasi

Next Post
Presiden Prabowo Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Prabowo Tegaskan Pentingnya Jaga Persatuan dan Kerukunan dalam Kehidupan Demokrasi

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Perkuat Pengendalian Rabies di Bali, Kementan Alokasikan 205.000 Dosis Vaksin pada 2026

Perkuat Pengendalian Rabies di Bali, Kementan Alokasikan 205.000 Dosis Vaksin pada 2026

16 Oktober 2026
Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

16 Oktober 2026
Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

16 Oktober 2026
Ekonom UGM Usulkan 3 Langkah ke Pemerintah Jaga Defisit Neraca Pembayaran

Hingga Agustus 2026, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.242 Triliun

16 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .