Imperium.id, Jakarta- Tekanan harga pangan di Indonesia makin terasa. Menurut data Bank Indonesia (BI), inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) melonjak ke 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026.
Angka ini jauh di atas inflasi umum yang tercatat 3,28 persen yoy. Data tersebut menjadi sorotan pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Oktober.
Kelompok volatile food mencakup komoditas seperti cabai, daging ayam, beras, dan telur, yang harganya mudah naik-turun mengikuti musim panen dan cuaca. BI mengaitkan kenaikan kali ini dengan gangguan cuaca dan naiknya biaya input.
Menurut EBC Financial Group (EBC), yang perlu diwaspadai bukan lonjakan harga pangan itu sendiri. Risikonya muncul bila lonjakan itu membuat masyarakat dan pelaku usaha memperkirakan harga barang dan jasa lain juga akan naik.
Tanda-tandanya mulai terlihat. Peritel memproyeksikan harga masih akan naik hingga Februari 2027. Di saat yang sama, El Niño, fenomena iklim yang mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, diprakirakan bertahan hingga April 2027.
“Inflasi umum naik 3,28 persen secara tahunan dan masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5–3,5 persen. Sementara itu, harga pangan bergejolak melonjak 5,03 persen,” ujar Sana Ur Rehman, Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group dalam keterangan resmnya, Kamis (15/10).
“BI sudah menegaskan kebijakannya tidak merespons lonjakan harga yang bersifat sementara. Namun, jika pelaku usaha dan rumah tangga mulai berekspektasi harga akan terus naik, guncangan pangan yang sifatnya sementara bisa berubah menjadi tekanan yang menetap.”
Inflasi Inti Justru Melandai
Sasaran inflasi BI ditetapkan 2,5 persen ± 1 poin persentase, atau rentang 1,5–3,5 persen. Di tengah lonjakan harga pangan, inflasi inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung persisten, justru turun ke 2,84 persen pada September dari 2,92 persen pada bulan sebelumnya.
Analis EBC menilai jarak yang lebar antara inflasi pangan dan inflasi inti menunjukkan masalahnya ada pada pasokan pangan. Tekanan harga belum meluas ke seluruh perekonomian.
Pelajaran dari Krisis Biaya Hidup Versi IMF
Dana Moneter Internasional (IMF) pernah meneliti sejumlah krisis biaya hidup, yakni periode ketika harga kebutuhan pokok seperti pangan dan energi naik lebih cepat dibanding harga lain dan upah. Hasilnya, ekspektasi inflasi bertahan di atas level sebelum krisis selama bertahun-tahun.
IMF juga menemukan bahwa keluarga berpendapatan rendah menanggung inflasi yang jauh lebih tinggi daripada kelompok mampu, karena porsi belanja pangan dan energi mereka lebih besar.
Indonesia saat ini tidak sedang mengalami krisis semacam itu. Inflasi umum masih dalam rentang sasaran, inflasi inti melandai, dan BI menyatakan ekspektasi inflasi tetap terjangkar.
Meski begitu, studi IMF menunjukkan urutan yang biasanya terjadi. Pertama, harga kebutuhan pokok melonjak. Kedua, masyarakat mulai memperkirakan harga akan terus naik. Ketiga, ekspektasi itu bertahan tinggi.
Data terbaru Indonesia sudah memperlihatkan tahap pertama. Tahap kedua baru terlihat sebagian: peritel memang memperkirakan harga naik, tetapi survei mereka tidak mengukur ekspektasi inflasi dengan metode yang sama seperti IMF. Artinya, ini adalah risiko yang perlu dipantau, bukan tanda krisis.
Ekspektasi Peritel Menanjak, El Nino Membayangi hingga 2027
Survei Penjualan Eceran BI periode September mencatat Indeks Ekspektasi Harga untuk Februari 2027 naik ke 177,9 dari 166,0 pada periode sebelumnya.
Semakin tinggi angka indeks, semakin besar tekanan harga yang diperkirakan peritel. Peritel adalah pihak yang menetapkan harga di toko. Jika mereka memperkirakan harga terus naik, mereka cenderung ikut menaikkan harga jual. Dengan begitu, kenaikan harga pangan bisa merembet ke barang lain.
Dari sisi cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño berada pada level sangat kuat. BMKG memprakirakan 66,09 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada dasarian II Oktober. El Nino diperkirakan berlangsung hingga akhir April 2027, melewati horizon Februari 2027 dalam survei peritel. Namun, BMKG memperkirakan dampak kekeringan akan mereda begitu musim hujan tiba.
Waktu keduanya memang bersamaan, tetapi itu belum membuktikan El Niño menjadi penyebab naiknya ekspektasi peritel. Yang sudah jelas, BI mencatat gangguan cuaca ikut mendorong kenaikan harga pangan.
Ruang Pelonggaran BI Bisa Menyempit
BI menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% pada 23 September dan menegaskan tidak merespons lonjakan harga yang bersifat sementara. Namun, jika ekspektasi kenaikan harga makin meluas, ruang BI untuk memangkas suku bunga bisa makin sempit.
Hal ini akan berdampak pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah, yang sama-sama bergerak mengikuti ekspektasi suku bunga.
Pelaku pasar dapat memantau perkembangannya lewat rilis inflasi bulanan, Survei Penjualan Eceran BI, dan pembaruan data curah hujan BMKG.
“Untuk saat ini, kenaikan harga masih terpusat di pangan, dan BI mengaitkannya dengan faktor cuaca serta biaya input yang lebih tinggi. Inflasi inti justru melandai,” kata Rehman.
“Kami mencermati ekspektasi harga di tingkat peritel. Jika terus naik selama El Niño berlangsung, masalah cuaca bisa berubah menjadi masalah harga yang lebih panjang. Jika berhenti naik, ini hanya akan menjadi lonjakan harga pangan jangka pendek.”













