• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Minggu, 18 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Headline

Hasil Studi Saiful Mujani: Sentimen Gender dan Agama Masih Kuat dalam Pilpres 2024

31 Juli 2023
in Headline, Politik
0
Survei SMRC: Pemilih Kuat Ganjar 73 Persen, Anies 61 Persen dan Prabowo 59 Persen

Calon Presiden Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Jakarta-Politik identitas dalam hal perbedaan jenis kelamin atau gender dan agama masih sangat kuat dalam masyarakat Indonesia terkait dengan pemilihan presiden.

Demikian hasil studi yang dilakukan ilmuan politik, Prof. Saiful Mujani yang dipresentasikan dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Politik Identitas Dalam Pilpres 2024”, Kamis 27 Juli 2023.

Saiful menjelaskan bahwa politik identitas adalah politik yang bersandar pada identitas sosial. Di Indonesia, identitas sosial dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Namun ada satu identitas sosial yang penting dan luput dari perbincangan politik sehingga tidak masuk dalam kategori SARA, yaitu identitas gender: laki-laki dan perempuan.

Saiful melihat bahwa berpolitik dengan sikap diskriminatif pada perempuan, misalnya, belum dimasukkan sebagai persoalan SARA. Diskusi mengenai identitas biasanya hanya memasukkan aspek kedaerahan, suku, dan agama. Unsur gender tidak dimasukkan ke dalam perdebatan itu.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu menyatakan akan menarik jika memasukkan unsur gender dalam perbincangan politik, sebab faktanya, pada kepemimpinan nasional, Indonesia belum pernah punya presiden yang terpilih secara langsung oleh publik. Adapun Megawati yang pernah menjadi presiden, dia terpilih melalui pemilihan di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), bukan berdasarkan pilihan masyarakat secara luas.

Pertanyaannya adalah, sejauh mana inklusivitas masyarakat Indonesia dari sisi politik identitas berkaitan dengan perbedaan gender? Menurut Saiful, ada sejumlah tokoh nasional perempuan yang berkualitas, seperti menteri keuangan Sri Mulyani dan menteri luar negeri Retno Marsudi. Tapi dalam politik elektoral, mereka belum begitu kuat.

Setidak-tidaknya tidak ada tokoh perempuan yang didukung oleh partai politik untuk menjadi calon presiden. Sempat muncul isu tentang Puan Maharani sebagai calon presiden, namun aspirasi untuk Puan sebagai calon presiden tidak berkembang. Apakah semua ini merupakan cerminan dari sikap pemilih secara umum yang kurang inklusif dari sisi identitas sosial dalam perilaku politik?

Saiful Mujani Researh and Consulting (SMRC) memiliki data hasil survei nasional Juli 2023 yang salah satunya membahas tentang seberapa penting politik identitas atau politik yang bersandar pada sentimen identitas sosial. Idealnya, kata Saiful, preferensi politik masyarakat disandarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional. Rasional artinya adalah sesuatu yang bisa diperdebatkan atau bisa dinilai salah atau benar. Sementara identitas seperti gender dan agama tidak bisa dinilai salah atau benar.

Menurut pendiri SMRC tersebut, politik yang inklusif dilihat dari sisi identitas sosial idealnya menunjukkan kurva normal di mana yang eksklusif minoritas dan yang banyak adalah mereka yang menganggap perbedaan identitas seperti agama, etnis, dan gender bukan faktor yang utama dalam pilihan politik. Kalau kelompok yang tidak mempersoalkan identitas sosial dalam perilaku politik itu dominan, maka politik menjadi lebih rasional dan bisa lebih programatik.

Dalam studi ini, diajukan tiga pendapat mengenai presiden republik Indonesia dilihat dari latar belakang laki-laki dan perempuan: ada yang berpendapat presiden Indonesia harus laki-laki, pendapat kedua menyatakan presiden Indonesia harus perempuan, dan pendapat ketiga adalah bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan untuk presiden Indonesia tidak penting.

Hasilnya, 51 persen publik yang menyatakan presiden Indonesia harus laki-laki, 1 persen menyatakan harus perempuan, 45 persen menyatakan perbedaan laki-laki dan perempuan untuk presiden Indonesia tidak penting, dan 4 persen tidak jawab.

Menurut Saiful, data ini menunjukkan sikap patriarkal dalam masyarakat Indonesia sangat besar. Dalam hal apakah presiden Indonesia harus laki-laki atau perempuan, kecenderungan masyarakat Indonesia harus laki-laki.

“Kalau selama ini tidak mudah bagi seorang perempuan untuk kompetitif dalam politik hal itu terjadi karena basis masyarakatnya memang patriarkal,” ungkap Doktor Ilmu Politik dari Ohio State University, Amerika Serikat, itu.

Dari sisi etnis atau suku bangsa, ada 78 persen yang menyatakan perbedaan etnis atau suku tidak menjadi masalah dalam memilih presiden, hanya 17 persen yang menyatakan calon yang etnis atau sukunya sama dengan mereka, dan 5 persen tidak menjawab.

Menurut Saiful, hal ini menunjukkan masyarakat cukup inklusif dari sisi etnisitas dalam pemilihan presiden. Di negara-negara demokratis lain, sentimen etnis masih cukup kuat, seperti terjadi di Spanyol.

Dalam hal agama, ketika ditanya di antara calon-calon presiden yang akan maju dalam Pilpres mendatang, 50 persen menyatakan akan memilih calon yang agamanya sama, 45 persen menyatakan perbedaan agama tidak menjadi masalah, dan 5 persen tidak tahu.

Saiful menjelaskan bahwa identitas agama punya pengaruh yang sangat kuat dalam pemilihan presiden.

“Secara umum, pada dasarnya masyarakat Indonesia cenderung eksklusif secara agama dalam menentukan pilihan politik mereka dalam pemilihan presiden. Orang memilih bukan karena calonnya kompeten dan rekam jejaknya bagus, tapi karena agamanya sama dengan saya (pemilih),” jelas Saiful.

Apakah perbedaan identitas sosial itu akan memengaruhi pilihan politik dalam Pilpres? Studi ini menemukan bahwa yang menyatakan presiden harus laki-laki, 42 persen memilih Prabowo, 30 persen Ganjar, dan 28 persen Anies.

Yang menyatakan presiden harus perempuan, 43 persen memilih Prabowo, 29 persen Ganjar, dan 29 persen Anies. Sementara yang menyatakan perbedaan jenis kelamin untuk presiden Indonesia tidak penting, 40 persen memilih Prabowo, 41 persen Ganjar, dan 19 persen Anies.

Saiful menjelaskan bahwa perbedaan gender signifikan secara statistik dalam pemilihan presiden. Yang terlihat berbeda ada pada pemilih Ganjar, lebih tinggi yang menyatakan perbedaan gender tidak penting dibanding yang menyatakan presiden harus laki-laki.

Sebaliknya, pemilih Anies yang menyatakan presiden harus laki-laki lebih banyak dibanding yang tidak mempersoalkan identitas gender. Sedangkan pada Prabowo, perbedaan pandangan itu tidak berbeda secara signifikan.

“Yang berbeda di sini adalah pada pemilih Anies dan Ganjar. Yang memilih Anies lebih patriarkal dan yang memilih Ganjar lebih inklusif,” kata penulis buku Muslim Demokrat tersebut.

Studi ini menunjukkan bahwa sisi etnisitas tidak terlalu penting dalam menentukan pilihan warga. Selisih antara yang memilih calon yang etnisnya sama dan tidak mempersoalkan etnisitas tidak berbeda signifikan secara statistik dengan p-value 0,262 atau di atas 0,05.

Sementara faktor agama sangat kuat. Ada 44 persen yang menyatakan akan memilih calon yang agamanya sama dengan mereka memilih Prabowo, sementara yang menyatakan perbedaan agama tidak penting 38 persen. Pada pemilih Ganjar, yang menyatakan akan memilih calon yang seagama 26 persen dan 45 persen yang tidak mempersoalkan agama. Sementara pada pemilih Anies, 30 persen yang memilih calon yang seagama dan hanya 17 persen yang tidak mempersoalkan agama.

Seperti pada kasus identitas gender, Saiful menyatakan bahwa efek dari identitas juga terlihat lebih jelas pada Ganjar dan Anies.

Secara umum, Saiful menyatakan bahwa politik identitas pada masyarakat Indonesia masih penting, terutama yang berkaitan dengan gender atau jenis kelamin dan agama.

“Masyarakat kita belum inklusif dalam persoalan gender dan agama. Anda harus berpikir dua kali (untuk maju dalam kepemimpinan nasional) kalau anda perempuan atau berasal dari agama minoritas,” simpulnya.

Tags: #2024#agama#gender#Pilpres#politik identitas#Saiful Mujani#SMRC
Previous Post

Atasi Banjir Jakarta, Jokowi Minta Normalisasi Sungai Ciliwung Segera Rampung

Next Post

Jokowi Prioritaskan Suplai Gas Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Next Post
Menteri ESDM Tegaskan Komitmen Indonesia Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Jokowi Prioritaskan Suplai Gas Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Menteri ESDM Tegaskan Izin PT GAG Terbit Sebelum Saya Jadi Menteri

Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman 16-18 Hari

17 Oktober 2026
Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

17 Oktober 2026
Ekonom UGM: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen Tahun Ini Sulit Tercapai

Krisis Lapangan Kerja, Guru Besar UGM Dorong Penguatan Ekonomi Daerah dan Industri Padat Karya

17 Oktober 2026
Mensos Sebut Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara Capai 27,3 Juta KPM

Mensos Tegaskan Digitalisasi Bansos Perkuat Akurasi dan Transparansi

17 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .