Imperium.id, Jakarta-Perempuan yang sedang merakit
tubuh lagi, kelak yang dilahirkannya
kuat tanpa harus tumbang oleh badai
teriring mitos belum tentu bisa dipercaya
namun, ranum di setiap musim berlalu
selalu ada yang abadi dari
sepanjang hayat kasihnya
II
Perempuan yang belum selesai
dengan dirinya
meredam ramainya isi kepala
siapakah dia sesungguhnya ?
berkisah memanjakan diri
dibalik mereka yang tak paham
merajut kegelisahan menjadi
lukisan kehidupan
merangkai keseimbangan serupa
pelajaran hayat
…..benar – benar tidak paham
bahwa ketidaktahuan sumber
ketakutan
III
Perempuan pengelana pikiran
tempat dimana menyukai hujan
membuatnya menari dalam keteduhan
bertarung bila hanya gerimis;
karena ia hanya mempercepat kelam
dan berjalan lambat
dibingkainya langit sebagai
catatan musim yang terlipat
….ia hanya terombang – ambing
di antara tetap menikmati
atau pergi menjauh ?
-2024
KATA YANG HILANG
meski membilang gerimis,
ku tahu kerumunan doa
sedang bertarung di langit
meski membelah harapan,
keinginan tak selalu
bertemu kenyataan
perjalanan belum usai
angin pun terbuai
namun ada kata yang hilang
jiwa serasa cermin
seruan riuh ke dalam diri
secercah jawaban dari keraguan
ya kata “merelakan”,
bunyinya sederhana
dari masalalu yang masih menganga
dan masih tersimpan
; kecewa lama
adalah suatu penerimaan…
‘bahwa tidak semua berjalan seperti yang diinginkan’
-2024
RETROSPEKSI HATI
hati itu menghembuskan riang
memasuki hari yang telah berlalu
mengetuk pesan berulang
demi imaji tanpa temu
hati itu bersama lentera
menjelma arah harapan
memaafkan batas kecewa
berdamai untuk masa depan
hati itu menyenangkan perih
menolong pikiran atas kenangan
merapal kisah beranjak pulih
bergulung di batas terusaikan
sentuhan hati untuk menghembuskan
sentuhan hati untuk bersama
sentuhan hati untuk menyenangkan
pesannya tersirat tidak pernah tahu sedalam apa !
2021 – 2024
SULUK DOA
dalam diam ;
menyapa langit,
pancarkan lukisan ibadah
pada sapa ;
melekat sederhana,
suluhkan syukur mendalam
menuju tak terbatas pada sudut langit,
melampaui bilah cahaya berkedip
-2020
JEJAK DOA
doa kita sama
bergema, dari budi manusia
bergaung, dari pikiran manusia
melepas ;
agar tersemogakan
mewakili ;
agar terkabulkan
-2020
SULTAN MUSA, berasal dari Samarinda – Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai platform media online & media cetak Nasional maupun Internasional. Karya – karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional.
Buku tunggalnya bertajuk “Titik Koma” nomine buku puisi unggulan Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.
Dan puisinya terpilih juga pada event “Challenge Heart and Art for Change” Collegno Fòl Fest Turin – ITALIA (2024). Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Adapun Instagram : @sultanmusa97













