• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Minggu, 18 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Kolaborasi Apik KKP-FAO Hasilkan Digitalisasi Pengendalian Penyakit Ikan

21 Maret 2025
in Ekonomi
0
Kolaborasi Apik KKP-FAO Hasilkan Digitalisasi Pengendalian Penyakit Ikan

Aplikasi Sicekatan/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Persatuan Bangsa-Bangsa (FAO) mengumumkan capaian keberhasilan Technical Cooperation Programme TCP/INS/3903 project Enhancing preparedness and response system on aquatic animal disease to support blue economy transformation.  

Keberhasilan dan pembelajaran Program Kerja Sama TCP/INS/3903 yang dilaksanakan sejak pertengahan 2023 hingga awal 2025 ini dilaporkan dalam lokakarya akhir proyek. Keberhasilan ini sekaligus menjadi momen dilakukan soft launching aplikasi Sicekatan (Sistem Pelaporan Cepat Penyakit Ikan).

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa proyek dua tahun TCP/INS/3903 ini sangat penting dalam mengimplementasikan salah satu kebijakan KKP yaitu pengembangan perikanan budi daya di laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan berbasis ekonomi biru.

“Proyek kerja sama ini sangat mendukung sub sektor perikanan budi daya yang menjadi salah satu tulang punggung percepatan target swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional,” kata Dirjen Tebe di Jakarta.

Dirjen Tebe menegaskan program ekonomi biru Menteri Sakti Wahyu Trenggono berhasil meningkatkan produksi ikan hasil budidaya di tahun 2024, yakni meningkat sebesar 13,64% dari tahun sebelumnya. Tantangan dalam produksi perikanan budidaya diantaranya serangan penyakit yang menginfeksi ikan berupa virus, bakteri, jamur maupun parasit.

“Melalui kolaborasi kerjasama dengan FAO ini sangat membantu dalam meningkatkan kesiapsiagaan pengendalian penyakit ikan melalui peningkatan sistem tanggap darurat wabah penyakit ikan di Indonesia,” jelas Tebe.

Lanjut Tebe menyebutkan tiga output dari proyek kerja sama TCP/INS/3903 yaitu peningkatan kapasitas penilaian risiko guna meminimalisir risiko masuk dan tersebarkan penyakit ikan, penguatan kapasitas Pos Pelayanan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Terpadu (POSIKANDU). Terakhir yaitu peningkatan keterampilan dan pengetahuan dalam perencanaan tanggap darurat penyakit ikan.

Direktur Ikan Air Laut Ditjen Perikanan Budi Daya KKP, Tinggal Hermawan menjelaskan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam pencapaian output pertama yaitu review dan updating aplikasi Indonesian aquatic animal disease alert system (IAADAS) dan software sistem monitoring penyakit ikan (SSMPI), pelatihan manajemen kesehatan ikan dan assessment posikandu.

Sementara kegiatan yang telah dilaksanakan dalam output kedua yaitu pelatihan petugas posikandu, sosialisasi AMU/AMR dan survey AMU serta surveilan AMR. Terakhir, beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mencapai output 3 yaitu penyusunan dokumen perencanaan kontijensi dan tindakan tanggap darurat enteric septicaemia of catfish dan streptococcis dan pelatihan (simulasi) tanggap darurat bagi gugus tugas tanggap darurat penyakit ikan.

“Capaian keberhasilan dari kerja sama TCP/INS/3903 adalah terlaksananya assessment POSIKANDU, tersedianya dokumen perencanaan kontijensi dan tindakan tanggap darurat untuk dua penyakit ikan yaitu enteric septicaemia of catfish dan streptococcis. Selain itu munculnya sistem informasi aplikasi SSMPI dan SICEKATAN versi web dan juga aplikasi SICEKATAN versi mobile. Aplikasi tersebut diharapkan dapat diakses pada minggu kedua April 2025,” jelas Tinggal.

Aplikasi Sicekatan

Salah satu capaian terbesar proyek ini adalah aplikasi Sicekatan yang berhasil memperbarui sistem peringatan dini penyakit ikan di Indonesia menjadi berbasis Android yang lebih modern, dibanding sebelumnya hanya berbasis layanan pesan singkat (SMS).

Melalui aplikasi Sicekatan, pembudidaya ikan dapat melaporkan gejala dan dokumentasi penyakit ikan dengan lebih mudah dan mendapatkan saran penanganan dengan cepat dan tepat dari gugus tugas tanggap darurat penyakit ikan. Jika diperlukan, sistem ini juga melibatkan pengujian laboratorium guna menghadirkan solusi penanganan yang lebih spesifik.

“Sebelumnya sistem peringatan penyakit yang berbasis SMS, data dari pembudi daya ikan mengenai kejadian penyakit ikan sangat terbatas. Melalui dukungan proyek kerjasama ini, sistem Sicekatan ini telah dioptimalkan menjadi sistem berbasis Android yang lebih mudah diakses dan praktis serta dilengkapi dengan lebih banyak informasi dan juga menu yang interaktif. Dengan begitu, diharapkan koordinasi dalam penanganan penyakit ikan oleh gugus tugas dapat menjadi lebih cepat,” kata Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal.

Rajendra Aryal mengatakan proyek TCP/INS/3903 ini juga telah meningkatkan kemampuan dan pengetahuan garda terdepan di berbagai tingkatan, mulai dari pembudi daya hingga petugas lapangan POSIKANDU serta tim gugus tugas tanggap darurat dalam penanganan darurat penyakit ikan.

“Sebanyak 25 petugas Posikandu telah dibekali pelatihan dalam investigasi wabah, serta pengawasan dan pelaporan penyakit ikan. Selain itu, lebih dari 130 pembudidaya ikan, penyuluh perikanan, petugas laboratorium serta gugus tugas tanggap darurat telah ditingkatkan kapasitasnya terkait resistensi antimikroba (AMR), pengelolaan penyakit ikan serta penanganan tanggap darurat dan juga perencanaan kontijensi untuk penyakit ikan utamanya pada patin dan nila,” jelas Rajendra Aryal.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mendorong produktivitas sektor perikanan dengan memasukkan pengembangan budidaya berkelanjutan di pesisir, darat, dan laut sebagai program prioritas KKP. Pengembangan perikanan budidaya untuk mendukung program ketahanan pangan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, serta menjaga keberlanjutan populasi perikanan di alam.

Tags: #digitalisasi#ikan#Kementerian Kelautan dan Perikanan#Penyakit
Previous Post

KKP Segera Bawa Ikan Budidaya Masuk Pasar Arab Saudi

Next Post

KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pengadaan Iklan Bank BJB, Rugikan Negara Rp222 Miliar

Next Post
KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pengadaan Server dan Storage Telkomsigma

KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pengadaan Iklan Bank BJB, Rugikan Negara Rp222 Miliar

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Menteri ESDM Tegaskan Izin PT GAG Terbit Sebelum Saya Jadi Menteri

Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman 16-18 Hari

17 Oktober 2026
Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

17 Oktober 2026
Ekonom UGM: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen Tahun Ini Sulit Tercapai

Krisis Lapangan Kerja, Guru Besar UGM Dorong Penguatan Ekonomi Daerah dan Industri Padat Karya

17 Oktober 2026
Mensos Sebut Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara Capai 27,3 Juta KPM

Mensos Tegaskan Digitalisasi Bansos Perkuat Akurasi dan Transparansi

17 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .