• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Jumat, 16 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Guru Besar UGM: Nikel Indonesia Bisa Jadi Daya Tawar Negosiasi Tarif AS

20 Mei 2025
in Ekonomi, Headline
0
DPR Desak Pemerintah Evaluasi Program Hilirisasi Nikel

Program hilirisasi nikel/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Yogyakarta-Indonesia saat ini menjadi salah satu dari dari 10 negara yang terkena tarif dagang tinggi dari Amerika Serikat.

Pasalnya, Amerika Serikat menerapkan tarif resiprokal sebesar 32 persen untuk Indonesia, namun belum diberlakukan karena ada masa penundaan selama 90 hari yang dimulai sejak 9 April 2025.

Belum lama ini, China berhasilkan melakukan negosiasi tarif dengan pemerintah Amerika Serikat dimana bea masuk impor turun dari 145 persen menjadi 30 persen.

Guru Besar Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum UGM, Prof. Dr. Mailinda Eka Yuniza, S.H., LL.M., menilai negosiasi dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan AS akan mineral penting dan keinginan Indonesia untuk mengembangkan pengolahan domestiknya.

Mailinda menuturkan, Amerika Serikat tengah mencabut bea masuk global atas sejumlah mineral penting tertentu. Langkah ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Material tersebut sangat penting bagi ekonomi AS, digunakan mulai dari ponsel pintar hingga rudal berpemandu.

“Pada dasarnya hal ini memperkuat akses Amerika terhadap sumber daya tersebut dan membuat ketersediaan globalnya menjadi semakin strategis,” kata dia dalam siaran persnya, Senin (19/5).

Mailinda menyebutkan,negara-negara yang kaya akan mineral tersebut kini menemukan posisi tawar yang semakin kuat dengan Amerika Serikat.

Ia mencontohkan, Tiongkok yang memproduksi sekitar 90 persen logam tanah jarang dunia dan merupakan pemasok utama bagi AS, segera merespons dengan menghentikan ekspor berbagai jenis mineral penting.

Menurutnya,  Indonesia yang memiliki 34 persen cadangan nikel dunia telah memberi sinyal kemungkinan akan menggunakan mineral penting sebagai alat tawar dalam menghadapi tarif tersebut.

“Kekuatan dari tawar ini bukanlah sekadar teori. Baik pembatasan dari Tiongkok maupun Indonesia disebut sebagai hambatan non-tarif dalam National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers terbaru dari United States Trade Representative,” paparnya.

Namun begitu, imbuhnya pemerintah saat ini menghadapi dilema, apakah akan memanfaatkan keunggulan jangka pendeknya atau tetap fokus pada ambisi industrialisasi jangka panjang. Dengan menggunakan ekspor mineral sebagai alat tawar berisiko memperpanjang negosiasi dagang dengan AS.

Berbeda dengan Tiongkok, yang merupakan kekuatan ekonomi besar dan mampu mengalihkan ekspornya ke pasar lain, Indonesia tidak memiliki fleksibilitas serupa.

“Sebagai negara berkembang, Indonesia mungkin tidak sanggup menanggung dampak finansial dari tarif berkepanjangan,” ujarnya.

Mailinda berpendapat sejauh ini Indonesia mengambil langkah yang lebih kooperatif. Pemerintah sudah menjanjikan sejumlah konsesi untuk memenuhi tuntutan AS. Ini termasuk menurunkan kuota impor dan melonggarkan aturan kandungan lokal untuk produk elektronik asal AS.

“Saya kira ini langkah-langkah yang jelas bertujuan mengakhiri konflik dagang dengan cepat,” terangnya.

Kesepakatan dagang yang lebih terbuka dengan Amerika bisa melemahkan kebijakan yang telah lama dibangun oleh Indonesia. Sejak 2020, Indonesia telah mendorong keras agar bijih mineral tetap diolah dalam negeri sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pemerintah telah berinvestasi besar dalam pengolahan domestik, mendukung pendirian BUMN baru seperti Danantara dan menghadapi gugatan dari Uni Eropa terkait larangan ekspor mineral.

“Membalikkan arah saat ini akan menyia-nyiakan upaya dan investasi selama bertahun-tahun,” sebutnya.

Salah satu kemungkinan adalah menghidupkan kembali Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi (TIFA) dengan AS. Namun, jalur ini tidak tanpa tantangan. AS kemungkinan besar akan menuntut akses lebih besar ke mineral penting Indonesia sebagai bagian dari perjanjian baru.

“Tanda-tanda hal ini sudah terlihat dalam pembicaraan perdagangan terbaru, di mana Indonesia menunjukkan kesediaan untuk memperdalam kerja sama dalam rantai pasokan mineral penting meskipun cakupan dan mekanismenya masih belum jelas,” katanya.

Hal yang menjadi krusial adalah kerangka hukum Indonesia saat ini masih memberlakukan larangan ketat terhadap ekspor bijih mineral mentah.

Oleh karena itu, setiap kesepakatan yang secara signifikan memperluas akses pasar AS ke sumber daya ini kemungkinan memerlukan reformasi legislatif dan regulasi besar.

”Jika AS menekan untuk liberalisasi pasar secara luas di sektor ini, Indonesia perlu melakukan perubahan struktural kebijakan yang lebih dari sekadar komitmen diplomatik,” tandasnya.

Kendati begitu, dunia usaha membutuhkan aturan dagang yang stabil. Jika ketidakpastian dari kebijakan AS terus berlanjut, katanya, banyak negara bisa memilih untuk mempererat perdagangan dalam wilayah masing-masing.

“Jika tren ini berlanjut, dunia bisa bergerak semakin jauh dari kerja sama global dan menuju sistem di mana hanya kelompok-kelompok negara tertentu yang bekerja sama,” katanya.

 

Tags: #Amerika Serikat#ekspor#Guru Besar#Indonesia#negosiasi#nikel#tarif#UGM
Previous Post

Presiden Prabowo Dukung Thailand Jadi Anggota BRICS

Next Post

Indonesia-Thailand Kerja Sama Kesehatan, Prabowo: Penting Hadapi Kemungkinan Pandemi Baru

Next Post
Prabowo Tetapkan Kenaikan Upah Minimum Nasional 2025 Sebesar 6,5 Persen

Indonesia-Thailand Kerja Sama Kesehatan, Prabowo: Penting Hadapi Kemungkinan Pandemi Baru

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

Kementan Perkuat Penyerapan Ayam, Jaga Harga dan Keberlanjutan Usaha Peternak Rakyat

16 Oktober 2026
Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

Bandara Riyadh Ditutup, Menhub Dudy Imbau Maskapai Penuhi Hak Penumpang

16 Oktober 2026
Ekonom UGM Usulkan 3 Langkah ke Pemerintah Jaga Defisit Neraca Pembayaran

Hingga Agustus 2026, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.242 Triliun

16 Oktober 2026
Uji Coba Penyaluran Bansos di Kopdes Merah Putih, Mensos Pastikan Tanpa Potongan

Uji Coba Penyaluran Bansos di Kopdes Merah Putih, Mensos Pastikan Tanpa Potongan

16 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .