Imperium.id,Tangsel — Asisten Deputi Produksi Dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Metty Kusmayantie mengatakan, media dan pelaku UKM sawit menjadi langkah strategis dalam memperluas eksposur positif terhadap komoditas unggulan nasional. Ia juga mengapresiasi kepada Majalah Sawit dan seluruh mitra penyelenggara kegiatan Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045”.
“Kami mengapresiasi kolaborasi ini. Ini adalah bentuk nyata sinergi antara UKM, media, pemerintah, industri, asosiasi, dan lembaga pembiayaan. Sektor sawit merupakan komoditas unggulan yang pada 2023 berkontribusi sekitar 60 persen dan menyerap 67 persen tenaga kerja nasional. Ini menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Metty Kusmayantie dalam acara Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan Majalah SAWIT INDONESIA dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), dan Asian Agri di Sepong Tangerang Selatan Banten, Kamis (23/10/2025).
Ditempat yang sama Ketua Pelaksana Acara Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit, Qayum Amri menjelaskan peranan strategis Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendukung pengembangan UKM sawit. Ia menyebut, BPDP telah menginisiasi katalog berisi 100 produk sawit dari 22 UKM di berbagai daerah seperti Riau, Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
“Selama ini sawit dikenal hanya sebatas minyak goreng. Padahal, ada sekitar 32 jenis produk UKM sawit mulai dari batik, skincare, kosmetik, aromaterapi, lilin, kopi, cokelat, keripik, hingga batik dan mie sawit merah,” jelas Qayum.
Ia mengatakan, pemilihan Tangerang Selatan khususnya Banten sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki potensi besar dari sektor hotel, restoran, dan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), yang dapat menjadi pasar potensial produk UKM sawit.
“Sawit bukan hanya milik korporasi, tapi milik semua. Dengan memperluas pemberitaan positif, kita bisa menghapus stigma negatif terhadap sawit, apalagi 40 persen lahan sawit saat ini dimiliki petani kecil,” ujarnya.Sementara itu, Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga mengatakan bahwa UKM dan koperasi harus menjadi motor utama kemajuan industri sawit.
“Titik kemajuan sawit ada di UKM dan koperasi. Bentuk koperasi modern yang berbasis teknologi, bukan seperti dulu. Jangan hanya memproduksi TBS sawit tetapi harus sampai kepada produk hilirnya. Kita harus mengubah petani dari objek menjadi subjek,” pungkas Sahat.
Media Relations Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mochamad Husni menyebut industri sawit tidak hanya berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menjadi penggerak utama UKM/UMKM di daerah penghasil sawit.
“Karena dari sisi petaninya sendiri kemudian punya daya beli, terus dari sisi masyarakatnya sendiri punya kemampuan untuk mengembangkan hasil-hasil dari industri sawit itu sendiri,” ujar Husni.
Dia menuturkan, hampir seluruh bagian sawit dapat dimanfaatkan dan menjadi bahan baku dari berbagai produk UMKM. Misalnya, tandan kosong sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam jamur merang yang kaya nutrisi dan bernilai ekonomis tinggi.
“Salah satu unggulan UMKM kami di Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kami mendorong mereka dari pelatihan, terus kemudian kami ajarin juga branding -nya, terus kemudian kami bantu juga pemasarannya,” ungkap dia.
Husni menegaskan, pasar UMKM di daerah penghasil sawit sangat besar dan konsumennya kuat. Dari pembelian tandan buah segar (TPB) oleh perusahaan dari petani mencapai Rp 200 triliun per tahun, sehingga daya beli masyarakat di wilayah tersebut sangat tinggi.
Tidak hanya itu, pembelanjaan dari karyawan perusahaan kelapa sawit di daerah juga mencapai hingga Rp 11 triliun, yang turut berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan UMKM di sekitar wilayah perkebunan sawit.
“Daya beli yang kuat ini sangat potensial untuk mendukung usaha kecil menengah. Masyarakat yang menjual TPB memiliki pendapatan yang dapat digunakan untuk membeli produk-produk UMKM lokal,” ujar Husni.
Director of SEAFAST Center LRI PGK IPB Puspo Edi Giriwono mengatakan, potensi hilirisasi sawit di Indonesia sangat besar dan saat ini sebagian sudah bisa digarap dalam skala UKM (dan UMKM) atau tidak harus oleh industri besar. Karena itu, jumlah UKM sawit tentu perlu ditambah untuk membantu mempercepat hilirisasi itu.
Penambahan UKM baru dan peningkatan kapasitas UKM yang sudah ada butuh bantuan dari pihak lain, termasuk inkubator bisnis. “Itu membantu (inkubator bisnis), supaya mereka enggak harus jauh-jauh datang (misalnya ke IPB), masing-masing tempat (sentra sawit) ada inkubator. Pekerjaan rumahnya tinggak nanti dibuat standar dan pengelolaan jaringan dari inkubator bisnis itu diperhatikan,” kata Puspo.
Sebenarnya, inkubator bisnis UKM sawit sudah ada, termasuk yang kini dilakukan IPB. Inkubator bisnis yang melibatkan semua pihak akan jauh lebih baik, di antaranya perusahaan sawit melalui program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) miliknya, pemerintah daerah melalui badan litbang, dan perguruan tinggi lewat program pemberdayaan masyarakat dan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Yang terlibat misalnya perusahaan-perusahaan besar lewat CSR-nya tentu itu bisa ikut berperan dalam inkubator bisnis UKM sawit ini, terus pemerintah daerah kan ada balitbang itu juga dapat membantu melakukan set-up, pun universitas menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelas Puspo.
Pengembangan inkubator bisnis juga bagian dari upaya menciptakan ekosistem UKM sawit yang lebih memadai. Inkubator bisnis akan membantu UKM terhubung dengan investor, jaringan pemasaran, juga bagaimana sampai ke pasar luar negeri.
Workshop ini menghadirkan narasumber antara lain Puspo Edi Giriwono, Ph.D (Director of SEAFAST Center LRI PGK IPB), Bachtiar Priyambodo, S.STP., M.Si (Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan), Mochamad Husni (Media Relations GAPKI), dan dan Shandyka Yudha Pratama (General Manager PT Ratu Bio Indonesia) yang dimoderatori Hamzirwan Hamid (Head of Editorial Collaboration Harian Kompas).













