Imperium.id,Bogor — PT Perkebunan Nusantara III (Persero) akan memperluas langkah strategis di bidang energi terbarukan dengan membangun pabrik biodiesel dan memperluas areal perkebunan sawit seluas 500 ribu hektare dengan investasi sebesar Rp60 triliun yang aka dimulai tahun 2026.
Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy mengatakan, langkah ekspansi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya program swasembada pangan dan energi nasional.
“Untuk tahun depan mungkin, kami akan mengupayakan untuk peningkatan produksi. Pertama, kami akan memperluas lahan,” ujar Ryanto di sela acara Outlook Komoditas Perkebunan Tahun 2026 di Aula Kantor Direksi PT Riset Perkebunan Nusantara, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/10/2025).
Pembangunan fasilitas produksi energi bersih itu sejalan dengan rencana pemerintah dalam menerapkan mandatori biodiesel 50 persen (B50), yakni campuran 50 persen minyak sawit atau crude palm oil (CPO) ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada 2026.
Sementara, pembangunan pabrik biodiesel dilakukan bertahap dengan menggandeng Pertamina dan sejumlah perusahaan swasta sebagai mitra strategis. Salah satu lokasi yang tengah dikaji untuk proyek tersebut berada di kawasan Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Agar pasokan bahan baku CPO tetap terjaga, PTPN akan bekerja sama dengan PT Agrinas Palma Nusantara, perusahaan BUMN yang dipercaya pemerintah mengelola perkebunan kelapa sawit.
Nilai investasi yang dibidik PTPN untuk pabrik biodiesel mencapai Rp 50 triliun hingga Rp 60 triliun. Dana sebesar ini sudah termasuk rencana perluasan lahan tanam kelapa sawit baru seluas 500.000 hektar (ha).
“Kami akan memperluas lahan, dan sesuai dengan arahan Pak Mentan mengenai program biodiesel kami akan memperluas kurang lebih sampai 500.000 hektar tanaman sawit,” katanya.
“Di sisi hilirnya kami mungkin mulai tahun depan sudah mulai membangun pabrik biodiesel. Saat ini kerja sama sudah dilakukan yang melibatkan kami, Pertamina, juga sektor swasta,” ujar Riyanto.
Dia menambahkan, perluasan areal sawit tersebut sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman terkait program hilirisasi komoditas perkebunan.
“Sesuai dengan arahan Pak Mentan, mengenai program hilir, kami akan memperluas kurang lebih sampai 500 ribu hektare tanaman sawit,” ungkap Ryanto.
Dia mengatakan, perluasan ini merupakan lahan baru yang bersumber dari landbank PTPN dan juga lahan-lahan yang termasuk dalam program kehutanan sosial, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Lahannya bebas dari kawasan hutan. Lahannya itu, antara lain dari landbank kami. Ada juga lahan yang dari kehutanan sosial. Sepanjang memenuhi aturan akan kami lakukan,” tuturnya.
Sementara itu, PTPN juga tengah menyiapkan pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore, Jember, yang sementara akan memanfaatkan bahan baku tetes tebu.
“Kalau bioetanol, bahan bakunya dari tetes tebu. Jadi rencananya di Glenmore, Jember, karena dekat dengan sumber produksi,” ujar dia.
Ryanto menegaskan, rencana pembangunan pabrik etanol ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk tidak memusatkan kegiatan industri perkebunan di Pulau Jawa saja, melainkan memperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
“Pemerintah mendorong agar pembangunan perkebunan dan pabrik tidak tersentral di Pulau Jawa, tapi tersebar di berbagai daerah. Misalnya di Bangka Belitung, Pulau Buru, Pulau Aru, hingga Konawe di Sulawesi Tenggara,” katanya.
Melalui langkah ini, PTPN III berharap dapat memperkuat peran sektor perkebunan dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol berbasis komoditas dalam negeri.













