• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Minggu, 18 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

KKP Bangun Sinergi Lintas Sektor Kembangkan Industri Budidaya Kepiting Nasional

10 November 2025
in Ekonomi, Uncategorized
0
KKP Bangun Sinergi Lintas Sektor Kembangkan Industri Budidaya Kepiting Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.od,Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat sinergi dengan berbagai mitra strategis untuk membangun industri budidaya kepiting berkelanjutan dan berorientasi ekspor. Salah satunya melalui Forum Ilmiah Kepiting Berkelanjutan yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah daerah dan pusat, asosiasi usaha, serta pelaku industri.

Pertemuan yang berlangsung akhir pekan kemarin di Makassar itu untuk merumuskan langkah konkret dalam memperkuat riset, hilirisasi inovasi, dan penguatan ekosistem bisnis budidaya kepiting nasional. “Pembangunan industri kepiting tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan volume produksi, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya dan kelestarian lingkungan pesisir,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, dalam siaran resmi di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Seiring meningkatnya permintaan global terhadap rajungan dan kepiting, Indonesia menghadapi tantangan berupa potensi penangkapan berlebihan di alam. Untuk menjaga keberlanjutan sumber daya, KKP mendorong menggeliatkan budidaya kepiting berkelanjutan dan edukasi kepada masyarakat pesisir.

Data ekspor menunjukkan bahwa rajungan dan kepiting merupakan komoditas strategis. Pada tahun 2024, keduanya tercatat sebagai komoditas ekspor perikanan terbesar keempat Indonesia setelah udang, tuna–cakalang–tongkol, dan cumi–sotong–gurita, dengan nilai mencapai USD 513,35 juta atau sekitar 8,6 persen dari total ekspor perikanan Indonesia. Negara tujuan ekspor terbesar meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

“Peningkatan kebutuhan pasar ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri budidaya kepiting yang stabil dan berkelanjutan,” tambah Dirjen Tebe.

Indonesia memiliki sejumlah sentra produksi budi daya kepiting yang potensial dan strategis. Kalimantan Timur tercatat sebagai wilayah dengan produksi tertinggi secara nasional dengan total produksi mencapai 9.801 ton, disusul Jawa Barat dengan produksi sebesar 3.007 ton, serta Sulawesi Selatan dengan produksi sebanyak 2.866 ton.

Untuk memperkuat pengembangan sektor tersebut, KKP telah membangun modeling budi daya kepiting di Pasuruan, Jawa Timur, seluas 30 hektare yang dikelola oleh Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo. Kawasan ini dirancang sebagai model teknologi budidaya kepiting yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Dirjen Tebe menegaskan bahwa pencapaian target pengembangan industri budidaya kepiting berkelanjutan tersebut dapat diwujudkan melalui sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.“Kolaborasi dan peran yang saling melengkapi tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam mewujudkan industri budidaya kepiting yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tandas Tebe.

Pentingny riset hingga teknologi

Prof. Rokhmin Dahuri, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia sekaligus anggota legislatif DPR RI, menegaskan Indonesia punya modal kuat karena memiliki ekosistem mangrove terluas dan pasar ekspor perikanan yang besar. Sehingga menurutnya, investasi pada budi daya rajungan merupakan peluang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Indonesia dapat menjadi produsen kepiting terbesar di dunia dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, selama riset, pembenihan, industrialisasi hatchery, pembiayaan, serta kemitraan antara pemerintah, kampus, pelaku usaha, dan swasta dapat berjalan seimbang,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Prof. Yushinta Fujaya dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar. Apalagi teknologi pembenihan dan pembesaran kepiting sudah dikuasai Indonesia. Tantangannya justru pada hilirisasi teknologi dan diseminasi kepada masyarakat, dan salah satu pendekatan yang terbukti efektif menurutnya adalah konsep crab silvofishery, yakni kegiatan budidaya kepiting yang dilakukan di lingkungan mangrove.

“Jka masyarakat dapat memperoleh penghasilan dari budidaya di kawasan mangrove, maka mereka akan turut menjaga ekosistem tersebut, sehingga ekonomi dan konservasi dapat berjalan beriringan,” ujarnya.

Sementar aitu Ketua Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), Kuncoro C. Nugroho, menyampaikan bahwa keberlanjutan sumber daya rajungan dapat dicapai apabila pelaku usaha, pembeli, dan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara permintaan pasar dan ketersediaan stok di alam. Untuk itu dia menekankan pentingnya penelitian dan pengembangan budidaya rajungan sehingga menghasilkan produk berkualitas yang setara dengan hasil tangkapan alam dan mampu memenuhi kebutuhan ekspor.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut budidaya sebagai depan masa sektor perikanan nasional. Hal ini karena Indonesia memiliki potensi lahan budidaya yang masih minim pemanfaatan, serta banyak komoditas perikanan yang bisa dikembangkan, termasuk kepiting.

Previous Post

Mentan: Industri Pembibitan dan Pakan oleh BUMN untuk Menopang Seluruh Peternak Kecil

Next Post

KKP Gandeng AP2HI Tingkatkan SDM Perikanan Tangkap Berkelanjutan

Next Post
KKP Gandeng AP2HI Tingkatkan SDM Perikanan Tangkap Berkelanjutan

KKP Gandeng AP2HI Tingkatkan SDM Perikanan Tangkap Berkelanjutan

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Menteri ESDM Tegaskan Izin PT GAG Terbit Sebelum Saya Jadi Menteri

Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman 16-18 Hari

17 Oktober 2026
Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

Eddy Soeparno Dorong Indonesia Punya One-Stop Center Kebijakan Krisis Iklim

17 Oktober 2026
Ekonom UGM: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen Tahun Ini Sulit Tercapai

Krisis Lapangan Kerja, Guru Besar UGM Dorong Penguatan Ekonomi Daerah dan Industri Padat Karya

17 Oktober 2026
Mensos Sebut Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara Capai 27,3 Juta KPM

Mensos Tegaskan Digitalisasi Bansos Perkuat Akurasi dan Transparansi

17 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .