MAKASSAR – Sebanyak 88 pekebun dan penyuluh kelapa sawit asal Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mengikuti Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit yang digelar sebagai bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Tahun 2026.
Pelatihan berlangsung 7–11 Agustus 2026 di Hotel Novotel Grand Shayla Makassar. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan PT Trifos International Sertifikasi (TRIC).
Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam menerapkan teknik panen dan pascapanen yang tepat. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS), mendongkrak rendemen minyak sawit, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan pekebun.
Pelatihan secara resmi dibuka Turiah, S.P., M.Si., yang mewakili Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan.
Dibuka dengan Pantun
Turiah membuka sambutannya dengan pantun yang disambut meriah para peserta.
“Buah sawit jangan dipetik muda,
Matangnya pas, hasilnya berkah.
Petani sawit Luwu Timur dikenal setia,
Kalau menjawab salam, pasti paling meriah.”
Turiah kemudian menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme peserta dan penyelenggara sebelum secara resmi membuka Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit Kabupaten Luwu Timur.
Disiplin Panen Jadi Kunci Rendemen
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Abshar Abdur Razak, S.P., yang mewakili kepala dinas, mengatakan fluktuasi harga Crude Palm Oil (CPO) yang dipengaruhi pasar global menuntut pekebun meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi dari tingkat kebun.
Menurut Abshar, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah rendahnya rendemen di sejumlah pabrik. Padahal, dengan dukungan bibit unggul dan penerapan teknik panen yang benar, potensi rendemen masih dapat ditingkatkan.
“Rendemen pabrik kita selama ini ada yang hanya bertahan di angka 16 persen, padahal dengan bibit unggul dan tata kelola panen yang disiplin, potensinya bisa menembus lebih dari 25 persen,” ujar Abshar.
Karena itu, dia mengapresiasi dukungan BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan TRIC dalam meningkatkan kompetensi pekebun.
Menurut Abshar, peningkatan kualitas TBS juga berkaitan dengan program strategis nasional, termasuk kebijakan integrasi biodiesel B50 yang diharapkan turut menjaga stabilitas harga sawit di pasar domestik.
Dia meminta peserta tidak berhenti belajar selama pelatihan. Pengetahuan yang diperoleh, termasuk teknik pemotongan tangkai buah agar sesuai standar, harus diterapkan dan disebarluaskan kepada pekebun lain di daerah asal.
Pekebun Sawit Pahlawan Devisa
Direktur Utama PT Trifos International Sertifikasi (TRIC), Rendy Agung Firmansyah, S.Hut., M.M., C.F.P., mengatakan pekebun kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian keluarga maupun negara.
“Petani kelapa sawit adalah pahlawan keluarga sekaligus pahlawan devisa negara. Ketika mutu panen dan rendemen minyak sawit meningkat, bukan hanya devisa negara yang terjaga, tetapi kesejahteraan keluarga petani sendiri yang akan terangkat,” kata Rendy.
Menurut Rendy, persoalan teknis masih menjadi salah satu penyebab rendahnya mutu TBS. Kesalahan saat pemotongan tandan dan keterlambatan pengangkutan hasil panen ke pabrik dapat memengaruhi kualitas buah sekaligus menurunkan nilai ekonominya.
Karena itu, pelatihan dirancang untuk mengubah pola pikir pekebun agar menjadi “Petani Sawit Cerdas” yang mampu mengendalikan mutu produk sejak dari kebun.
Pekebun tidak lagi hanya mengandalkan kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun, tetapi mulai menerapkan standar teknis dalam menentukan kematangan buah, memanen, memotong tangkai, hingga menangani TBS sebelum dikirim ke pabrik.
Selama mengikuti pelatihan, peserta mendapatkan fasilitas akomodasi, praktik lapangan, transportasi, serta perlindungan asuransi.
Ilmu Diharapkan Menular ke Pekebun Lain
Program pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada 88 peserta. Mereka diharapkan menjadi agen penyebaran pengetahuan kepada pekebun lain di komunitas masing-masing.
Sinergi BPDP, Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan TRIC diharapkan dapat memperkuat kapasitas SDM perkebunan sawit rakyat.
Dengan semakin banyak pekebun yang memahami teknik panen dan pascapanen sesuai standar, peningkatan mutu TBS dan rendemen diharapkan dapat berlangsung lebih luas. Pada akhirnya, peningkatan produktivitas dan kualitas hasil kebun diharapkan ikut memperkuat pendapatan serta kesejahteraan pekebun sawit rakyat di Luwu Timur dan Sulawesi Selatan.













