Imperium.id, Cikampek — Masa depan sektor pertanian Indonesia harus dihadapi dengan kesiapan, inovasi, dan kolaborasi. Hal ini seiring tantangan pertanian yang semakin kompleks, mulai dari perubahan cuaca dan iklim hingga pola serangan hama yang semakin dinamis. Kondisi tersebut membuat petani dituntut tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menghasilkan panen yang lebih berkualitas.
Dunia pertanian terus dinamis dengan tantangan yang lebih rumit dan lebih kompleks. Perubahan cuaca, perubahan iklim yang dirasakan pada saat ini, pola serangan hama juga menjadi lebih dinamis, dan petani dituntut untuk menghasilkan panen yang lebih tinggi dan lebih berkualitas.
Meski menghadapi berbagai tantangan, masa depan pertanian tidak perlu dikhawatirkan, yang lebih penting adalah mempersiapkan petani dan seluruh ekosistem pertanian agar memiliki keterampilan serta ketangguhan menghadapi perubahan.
“Lebih penting lagi kita harus mempersiapkan untuk masa depan pertanian, membangun bersama keterampilan, ketangguhan untuk menghadapi masa depan pertanian dan ini bisa dicapai melalui kolaborasi dan inovasi,” kata Presiden Direktur PT.Syngenta Indonesia, Eryanto dalam kegiatan Hari Tani 2026 di Crop Protection Development (CPD) Syngenta Cikampek yang menjadi salah satu fasilitas penelitian dan pengembangan teknologi pertanian Syngenta di Cikampek, Kabupaten Kerawang, Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, teknologi yang dikembangkan Syngenta tidak serta-merta langsung diterapkan kepada petani. Teknologi terlebih dahulu diuji dan dibuktikan untuk memastikan manfaatnya sebelum diperkenalkan lebih luas kepada petani.
“Kita berada di tempat di mana teknologi diuji, teknologi dibuktikan, sebelum kita sampaikan teknologi tersebut kepada tangan petani,” ujarnya.
Eryanto menjelaskan, CPD Cikampek bukan fasilitas yang baru dibangun. Fasilitas tersebut telah berdiri sejak dekade 1980-an dan menjadi bagian dari perjalanan panjang Syngenta dalam mengembangkan teknologi pertanian di Indonesia.
“Fasilitas ini sudah menjadi saksi perjalanan Syngenta, sudah menjadi saksi perjuangan Syngenta bersama petani dalam memajukan pertanian Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Eryanto menegaskan bahwa CPD Cikampek bukan sekadar fasilitas penelitian. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Syngenta untuk berkolaborasi dengan pemerintah, petani, penyuluh pertanian, serta berbagai pemangku kepentingan.
Ia menilai keberhasilan fasilitas tersebut tidak terlepas dari peran tim yang terus melakukan penelitian dan mencari inovasi baru yang dapat memberikan manfaat bagi petani.
Eryanto mengajak seluruh pemangku kepentingan pertanian untuk tidak sekadar menjadi penonton atas perubahan yang terjadi, tetapi turut menciptakan perubahan melalui kolaborasi dan inovasi.
“Masa depan pertanian akan kita bangun bersama dengan semangat kolaborasi, keberanian untuk berinovasi, dan keyakinan bahwa teknologi harus hadir dan harus relevan bagi petani-petani Indonesia,” pungkasnya.
Sementara di tempat yang sama, Deputi Direktorat Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional Direktorat ASPI dari Ditjen KPAII Kementerian Perindustrian, Seno Satrio Wibowo selaku Ketua Tim Promosi Barang dan Jasa Industri Internasional mengatakan, Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi yang tinggi kepada PT Syngenta Indonesia atas inisiatif dan komitmen berkelanjutannya dalam menyelenggarakan forum strategis ini, khususnya pada sesi inovasi teknologi pertanian.
“Sektor pertanian dan industri agro memiliki peran inti dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Pangan bukan hanya merupakan kebutuhan mendasar masyarakat, melainkan pondasi bagi kestabilan ekonomi dan kedaulatan bangsa. Dalam menghadapi ketidakpastian global serta dinamika tantangan iklim, keandalan pasokan hasil pertanian menjadi kunci vital yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Seno Satrio Wibowo mengatakan, Kementerian Perindustrian terus berupaya secara konsisten mengawal keberlanjutan sektor pertanian ini melalui kebijakan hilirisasi industri agro. Hilirisasi adalah prioritas nasional untuk memastikan bahwa komoditas pertanian kita tidak sekedar dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah di dalam negeri menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi. Melalui hilirisasi, kita memperkuat rantai pasok dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, dan memberikan nilai ekonomis yang lebih besar bagi para petani sebagai produsen utama.
“Sejalan dengan agenda hilirisasi, peningkatan daya saing industri manufaktur berbasis pertanian juga menjadi fokus utama kami. Untuk memenangkan persaingan pasar regional maupun global, efisiensi produksi dan standar kualitas bermutu tinggi harus diterapkan dari hulu ke hilir. Di sinilah inovasi teknologi memainkan peran sentral. Secara khusus, kami mengapresiasi kontribusi nyata PT Syngenta Indonesia yang secara konsisten menghadirkan solusi teknologi tepat guna bagi para petani padi lokal kita,” ujarnya.
Menurutnya, melalui pengembangan inovasi benih unggul, teknologi perlindungan tanaman berbasis sains modern, serta edukasi dan pendampingan lapangan yang intensif, Syngenta telah terbukti membantu petani meningkatkan efisiensi biaya, melindungi potensi hasil panen dari ancaman hama dan perubahan iklim, serta mendorong peningkatan pendapatan keluarga petani. Kemitraan berbasis alih teknologi seperti inilah yang menjadi pilar penting dalam memodernisasi ekosistem pertanian nasional.
“Adopsi teknologi modern, baik dalam bentuk benih unggul, formulasi perlindungan tanaman yang presisi, hingga penerapan teknologi digital, telah menjadi penggerak utama dalam mendongkrak produktivitas panen secara efisien dan berkelanjutan. Sinergi antara penyedia teknologi industri seperti Syngenta, pemerintah, dan petani adalah motor penggerak untuk mentransformasi sektor pertanian kita menuju skala manufaktur modern yang berdaya saing tinggi,” tuturnya.
Akhir kata, Seno Satrio Wibowo mengatakan, Kementerian Perindustrian menyambut baik ruang kolaborasi yang tercipta pada Festival Padi Petani Maju 2026 ini. Semoga sesi inovasi teknologi ini menghasilkan langkah-langkah konkrit dalam mendukung ketahanan pangan nasional, mempercepat hilirisasi, dan menyejahterakan para petani di seluruh pelosok tanah air.













