• Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami
Imperium.id
No Result
View All Result
Jumat, 16 Oktober 2026
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
  • HOME
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Nusantara
  • Gaya Hidup
  • Inovasi
  • Internasional
No Result
View All Result
Imperium.id
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Fenomena Downgrading Sinyal Daya Beli Masyarakat Menurun

7 Oktober 2026
in Gaya Hidup, Headline
0
Konsumsi Masyarakat Terus Menurun Jelang Lebaran, Ekonom UGM: Ekonomi Lagi Tidak Baik-Baik Saja

Tren konsumsi masyarakat menurun/ist

Share on FacebookShare on Twitter

Imperium.id, Yogyakarta-Fenomena downgrading atau perubahan pilihan konsumsi ke barang dan layanan yang lebih murah belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari perubahan gaya hidup, pengurangan angka konsumsi, hingga penyesuaian kepemilikan aset karena pendapatan yang relatif stagnan dan kebutuhan yang terus meningkat.

Ketidakpastian ekonomi belakangan ini, menyebabkan sebagian masyarakat mulai melakukan perubahan pola konsumsi, yakni mulai dari mengganti kendaraan dengan alternatif yang lebih murah, beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau, hingga mengurangi frekuensi makan dan rekreasi di luar rumah.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., menilai downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata.

Menurutnya, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian.

“Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujar Wisnu dalam keterangan resminya, Rabu (7/10).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dalam teori ekonomi lebih dikenal sebagai consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengorbankan konsumsi yang lebih fleksibel.

Dengan demikian, dikatakan oleh Wisnu,  masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas.

Menurut pandangannya, persoalan utama bukan terletak pada praktik downgrading, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya. Apabila hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara.

“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.

Lebih jauh, Wisnu melihat adanya dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading. Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi tersebut, sambungnya, membuat kemampuan belanja riil rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan.

Kedua, adanya ekspektasi ekonomi yang menurun. Baginya, masyarakat saat ini tengah menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi juga karena muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan. Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya bersifat rutin berubah menjadi lebih menahan.

“Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.

Meski begitu, Wisnu menilai bahwa tidak semua downgrading menunjukkan penurunan kesejahteraan.

Ia menjelaskan, penyesuaian konsumsi dapat terjadi secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga berubah, contohnya ketika anak telah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun. Sebaliknya, downgrading menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran.

“Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” jelasnya.

Di akhir, Wisnu menegaskan bahwa tekanan daya beli yang berlangsung lama dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas. Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat sehingga pelaku usaha dapat menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.

Apalagi, lanjut Wisnu, ketika masyarakat mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” ujar Wisnu.

 

Tags: #daya beli#downgrading#gaya hidup#konsumsi#Masyarakat#UGM
Previous Post

Kemenhaj-DPR Sepakati Biaya Haji 2027 Rp98,4 Juta, Jemaah Bayar Rp54,6 Juta

Next Post

Jelang 2 Tahun Pemerintahan, Prabowo Sampaikan Taklimat kepada 800 Perwira Tinggi TNI-Polri

Next Post
Prabowo Tetapkan Kenaikan Upah Minimum Nasional 2025 Sebesar 6,5 Persen

Jelang 2 Tahun Pemerintahan, Prabowo Sampaikan Taklimat kepada 800 Perwira Tinggi TNI-Polri

Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

Ketua Puak Melayu Indonesia : Program sedimentasi pasir laut, Anugrah Bagi Kami

3 Oktober 2024
Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

Grace Tahir Investasi di Folkshit, Siap Memperkuat Ekosistem Kreatif

27 September 2024
Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

Sigit Danang Joyo Dianggap Layak Gantikan Firli Sebagai Ketua KPK, Ini Sepak Terjangnya

25 Maret 2024
CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

CSG dan Republikorp Kembangkan Rudal Pertahanan Udara ADS-400

20 April 2023

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0

The Last Guardian Playstation 4 Game review

0

Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

0
Mentan Amran Perkuat Pengawasan Tata Niaga Ayam dan Telur dari Hulu ke Hilir

Mentan Amran Perkuat Pengawasan Tata Niaga Ayam dan Telur dari Hulu ke Hilir

16 Oktober 2026
Prabowo: Polri Harus Makin Profesional dan Berbakti kepada Rakyat

Prabowo Lantik Letjen Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB

15 Oktober 2026
DPR Desak Pemerintah Evaluasi Program Hilirisasi Nikel

Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus USD45 Miliar pada 2026

15 Oktober 2026
Jenderal Maruli Simanjuntak Dilantik Jadi Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPP

Jenderal Maruli Simanjuntak Dilantik Jadi Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPP

15 Oktober 2026

Follow Us

Kanal

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hukum
  • Inovasi
  • Internasional
  • Nusantara
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Uncategorized
  • Redaksi
  • Pedoman Media SIber
  • Tentang Kami

© 2023 Imperium.id .

No Result
View All Result

© 2023 Imperium.id .