Imperium.id,Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) menyarakan, pemerintah Indonesia siap buka peluang ekspor pupuk urea hingga 1,5 juta ton di tengah lonjakan harga global imbas akibat gangguan rantai pasok pupuk dunia.dampak penutupan Selat Hormuz. Namun, pemerintah menegaskan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Wamentan Sudaryono mengatakan, kondisi geopolitik global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, telah memengaruhi distribusi pupuk dunia. Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati jalur tersebut, sehingga gangguan yang terjadi berdampak signifikan terhadap ketersediaan pupuk internasional.
“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujar Wamentan Sudaryono usai menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Menurut Wamentan Sudaryono, kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun. Pada tahun 2026, ditargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton untuk mengamankan stok domestik. Surplus ini membuka peluang ekspor ke berbagai negara, termasuk Australia.
Sudaryono menyampaikan konflik global yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz telah mengganggu rantai pasok pupuk dunia. Menurutnya, sekitar sepertiga distribusi pupuk global diketahui melewati jalur tersebut.
Dia menjelaskan kebutuhan pupuk secara umum didominasi oleh unsur nitrogen (N) atau urea, disusul fosfat (P) dan kalium (K). Untuk komponen P dan K, Indonesia masih bergantung pada impor, tapi sumbernya telah terdiversifikasi sehingga tidak terlalu terdampak langsung oleh gangguan di Selat Hormuz.
“Untuk urea, kita ini adalah bisa mencukupi tanpa kebutuhan impor, karena bahan baku urea yang paling besar dibutuhkan untuk industri urea ini adalah gas, gas alam,” katanya.
Dia mengungkapkan, total produksi pupuk nasional mencapai sekitar 14,5 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat potensi kelebihan (excess) urea sekitar 1,5 juta ton pada 2026 yang dapat dialokasikan untuk ekspor.
“Sudah dihitung, diperkirakan di tahun 2026 ini akan ada ekses urea 1,5 juta ton. Nah, ekses urea 1,5 juta ton inilah yang kemudian banyak diminati oleh beberapa negara sahabat dari Indonesia,” ujarnya.
Namun demikian, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. “Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” tegasnya.
Menurutnya, minat terhadap urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia, tetapi juga dari sejumlah negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil. Meski demikian, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.
Wamentan Sudaryono juga menjelaskan bahwa hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Indonesia, di satu sisi, mengekspor urea, namun di sisi lain juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.
“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujarnya.
Adapun dalam menghadapi krisis global, pemerintah juga mengandalkan strategi diversifikasi sumber bahan baku pupuk dari berbagai negara seperti Aljazair, Maroko, Yordania, Laos, Australia, hingga Kanada.
“Jadi kita relatif resilient, jadi kita punya daya tahan yang cukup bagus karena kita sumber bahan baku yang impor tadi itu kemudian kita terdiversifikasi,” tuturnya.
Di sisi lain, harga pupuk urea global saat ini mengalami lonjakan signifikan. Sudaryono menyebut harga yang sebelumnya berada di kisaran US$600—US$700 per ton kini telah menembus US$900 per ton. “Kita mengikuti harga pasar dunia. Yang kita jual ngikuti harga pasar dunia,” tuturnya.
Menurut Sudaryono, lonjakan harga urea ini dipicu tingginya permintaan global di tengah terganggunya pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Bahkan, dia memadang banyak negara tetap membeli pupuk meski harga tinggi karena sifatnya yang esensial bagi produksi pangan.
Lebih lanjut, Sudaryono memastikan bahwa ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut sebagai indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.
“Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1–2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” jelasnya.
Ke depan, pemerintah juga berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional, sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional.













