PEKANBARU — Di tengah posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, produktivitas kebun rakyat masih menjadi tantangan utama. Luas areal perkebunan yang mencapai jutaan hektare belum sepenuhnya diikuti hasil panen yang mampu menyamai perkebunan perusahaan. Di Riau, provinsi dengan areal sawit terluas di Indonesia, kesenjangan produktivitas itu masih menjadi pekerjaan rumah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB) menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan IV Tahun 2026. Sebanyak 31 pekebun asal Kabupaten Bengkalis mengikuti pelatihan selama sepekan sebagai bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit.
Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah meningkatkan produksi nasional melalui optimalisasi kebun yang sudah ada. Dengan semakin terbatasnya peluang membuka lahan baru, peningkatan produktivitas menjadi pilihan paling realistis untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, mengatakan tantangan sektor sawit kini bukan lagi memperluas areal, melainkan memperbaiki cara mengelola kebun. Menurut dia, produktivitas perkebunan perusahaan telah mencapai lebih dari 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, sedangkan sebagian besar kebun rakyat masih berada pada kisaran 12–18 ton per hektare.
“Image yang selalu melekat adalah produktivitas kebun swadaya selalu lebih rendah dibandingkan perusahaan. Inilah yang harus kita ubah,” ujarnya.
Menurut Supriadi, kesejahteraan pekebun tidak cukup bergantung pada tingginya harga sawit. Tanpa produktivitas yang baik, kenaikan harga hanya memberikan manfaat terbatas. Karena itu, pemerintah melalui BPDP telah menyiapkan berbagai program pendukung, mulai dari Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), bantuan sarana dan prasarana, pelatihan, hingga penguatan kelembagaan pekebun.
Namun, ia menegaskan seluruh dukungan tersebut akan sia-sia apabila tidak diikuti perubahan pola budidaya di tingkat petani.
“Yang menjadi tantangan sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas. Karena itulah Bapak-Ibu hadir di sini,” katanya.
Ia mengingatkan keberhasilan pelatihan baru dapat diukur ketika peserta menerapkan ilmu yang diperoleh setelah kembali ke kebun masing-masing. Selama ini masih banyak kebun rakyat yang minim pemeliharaan. Pemupukan, pengendalian gulma, pengawasan kesehatan tanaman, hingga pemanenan sesuai standar sering kali belum dilakukan secara konsisten.
Padahal, produktivitas sangat ditentukan oleh penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman, hingga panen pada tingkat kematangan yang tepat.
“Kalau pulang dari sini tidak mengubah cara budidaya, yang kita dapat hanya cerita pernah menginap di hotel. Yang harus dibawa pulang adalah perubahan cara mengelola kebun,” ujarnya, disambut tawa peserta.
Supriadi juga membagikan pengalamannya sebagai pekebun. Menurut dia, produktivitas tinggi bukan hal yang mustahil dicapai apabila seluruh tahapan budidaya dijalankan secara disiplin.
“Boleh tidak kita bercita-cita petani sawit lebih sejahtera? Tentu boleh. Kuncinya ada pada cara kita mengelola kebun,” katanya.
Ia menambahkan peluang peningkatan pendapatan pekebun masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan minyak sawit dalam negeri, terutama untuk mendukung program biodiesel. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan apabila produksi kebun rakyat ikut meningkat.
Selain aspek teknis, Supriadi menilai penguatan kelembagaan petani juga menjadi faktor penting. Selama ini sebagian besar pekebun hanya menjual TBS ke pabrik kelapa sawit sehingga memiliki posisi tawar yang terbatas. Ke depan, kelompok tani diharapkan berkembang menjadi kelembagaan ekonomi yang lebih kuat dan mampu menciptakan nilai tambah.
Menurutnya, masa depan industri sawit tidak lagi hanya ditentukan oleh luas areal atau besarnya ekspor. Daya saing akan semakin bergantung pada kemampuan pekebun mengelola kebun secara produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Pelatihan di Pekanbaru menjadi bagian dari upaya mempercepat perubahan tersebut. Pemerintah berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi diterapkan secara nyata di kebun masing-masing. Dengan penerapan budidaya yang lebih baik, produktivitas kebun rakyat diharapkan terus meningkat, kesejahteraan pekebun membaik, dan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia semakin kokoh.













