PEKANBARU — Masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak lagi semata ditentukan oleh luasnya areal perkebunan, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Di tengah tuntutan pasar global terhadap produktivitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran, pemerintah mengubah strategi pembangunan sektor sawit dengan memperkuat kompetensi pekebun sebagai fondasi peningkatan daya saing.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan V Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB) di Pekanbaru, Riau. Sebanyak 30 pekebun asal Kabupaten Bengkalis mengikuti pelatihan selama sepekan dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didanai BPDP.
Pelatihan ini dirancang tidak hanya mengandalkan pembelajaran di ruang kelas. Peserta juga diajak melihat langsung penerapan praktik budidaya sawit berkelanjutan melalui kunjungan ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Sakti di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, yang telah mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Direktur Utama PT Sumberdaya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar peserta dapat memahami penerapan teknik budidaya secara nyata, sekaligus berdiskusi mengenai manfaat dan tantangan penerapan standar ISPO.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori, tetapi melihat langsung bagaimana praktik budidaya yang baik diterapkan di lapangan. Mereka juga bisa berdiskusi mengenai manfaat, peluang, dan tantangan menerapkan ISPO,” kata Andi.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik lebih efektif karena banyak persoalan di kebun tidak dapat dipahami hanya melalui teori. Di Gapoktan Manunggal Sakti, peserta dapat mempelajari pengelolaan kebun secara menyeluruh, mulai dari pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, panen berdasarkan standar kematangan buah, administrasi kebun, hingga penguatan kelembagaan yang mendukung sertifikasi ISPO.
Seluruh materi pelatihan disusun berdasarkan kurikulum Direktorat Jenderal Perkebunan. Selain teknik budidaya, peserta memperoleh pembekalan mengenai peningkatan produktivitas, kualitas tandan buah segar (TBS), penguatan kelembagaan kelompok tani, tata kelola organisasi, serta praktik perkebunan berkelanjutan.
“Peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis. Pekebun juga harus memiliki kelembagaan yang kuat, memahami standar keberlanjutan, dan mengelola kebunnya sebagai sebuah usaha,” ujar Andi.
Ia berharap pelatihan menjadi awal perubahan pola pikir dan cara kerja pekebun, sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan setelah kembali ke kebun masing-masing.
Pandangan tersebut sejalan dengan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi. Menurut dia, tantangan perkebunan sawit saat ini bukan lagi membuka lahan baru, melainkan meningkatkan hasil melalui optimalisasi kebun yang telah ada. Peluang ekspansi semakin terbatas sehingga peningkatan produktivitas menjadi strategi utama.
Supriadi menilai masih terdapat kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan. Padahal, melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten, kebun rakyat berpotensi menghasilkan produktivitas yang setara.
“Boleh tidak kita bercita-cita petani sawit lebih sejahtera? Tentu boleh. Kuncinya ada pada cara kita mengelola kebun,” katanya.
Ia menjelaskan produktivitas yang lebih tinggi tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperbesar pendapatan petani melalui pengelolaan kebun yang lebih efisien. Momentum itu semakin penting karena kebutuhan minyak sawit dalam negeri terus meningkat seiring pengembangan program biodiesel.
Namun, menurut Supriadi, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila pekebun mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Karena itu, kebun sawit harus dikelola secara profesional melalui perencanaan, pencatatan, pemeliharaan, dan evaluasi yang berkelanjutan.
Selain peningkatan kemampuan teknis, ia menilai penguatan kelembagaan petani menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing. Selama ini sebagian besar pekebun hanya menjadi pemasok tandan buah segar bagi pabrik kelapa sawit sehingga memiliki posisi tawar yang terbatas. Ke depan, kelompok tani diharapkan berkembang menjadi kelembagaan ekonomi yang lebih mandiri dan mampu menciptakan nilai tambah.
Pelatihan di Pekanbaru merupakan bagian dari implementasi Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 43/Kpts/KB.330/E/03/2026. PT Sumberdaya Indonesia Berjaya juga telah ditetapkan sebagai lembaga pelatihan perkebunan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 59/Kpts/PP.140/E/06/2025.
Program ini mencerminkan perubahan orientasi pembangunan industri sawit nasional. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada ekspor, hilirisasi, dan peningkatan kapasitas industri, kini investasi pada pengembangan SDM ditempatkan sebagai fondasi utama. Pemerintah meyakini keberhasilan industri sawit ke depan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi, tetapi juga oleh kemampuan jutaan pekebun menerapkan praktik budidaya yang produktif, profesional, dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap lahir pekebun yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu memenuhi standar keberlanjutan, serta meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Dari sanalah kesejahteraan petani diharapkan tumbuh, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.













