MAMUJU – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia perkebunan melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP).
Salah satu implementasinya diwujudkan melalui Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan 1 dan 2 yang diikuti oleh 59 pekebun asal Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 5 September 2026 di Hotel Grand Maleo Mamuju ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan yang didukung oleh BPDP bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian, serta diselenggarakan oleh PT Trifos Internasional Sertifikasi.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip dan kriteria ISPO, legalitas usaha perkebunan, praktik budidaya yang baik, perlindungan lingkungan, serta pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Peserta juga mengikuti kunjungan lapangan di PT Surya Raya Lestari II dan PT Bhadra Sukses untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan perkebunan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan standar ISPO.
Pekebun, Ujung Tombak Industri Sawit
Direktur Utama PT Trifos Internasional Sertifikasi, Rendy Agung Firmansyah, mengatakan pekebun kelapa sawit memiliki peran strategis sebagai ujung tombak keberlangsungan industri kelapa sawit Indonesia.
Menurutnya, peningkatan kapasitas pekebun menjadi penting agar industri kelapa sawit dapat terus berkembang sekaligus mampu menjawab tuntutan keberlanjutan.
“Pekebun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit. Karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman terhadap praktik perkebunan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan industri ke depan,” ujarnya.
Rendy menambahkan, penerapan ISPO memberikan manfaat bagi pekebun, mulai dari kepastian legalitas usaha hingga pengelolaan perkebunan yang lebih memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
Ia mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat kolaborasi agar industri kelapa sawit di Sulawesi Barat semakin maju, berdaya saing, dan diakui dunia.
ISPO untuk Daya Saing Pekebun
Sekretaris Daerah Kabupaten Pasangkayu, Moh. Zain Machmoed, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat dan daerah.
Menurutnya, pelatihan Implementasi ISPO menjadi salah satu upaya untuk memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dapat berjalan sesuai standar sekaligus mendukung perkembangan industri yang berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, S.E., menekankan pentingnya kesiapan pekebun dalam menerapkan sertifikasi ISPO.
Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2029 diharapkan seluruh pekebun telah melakukan sertifikasi ISPO. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi melalui program pengembangan SDM menjadi langkah penting dalam mempersiapkan pekebun.
Kelapa sawit sendiri memiliki kontribusi signifikan terhadap sektor perkebunan di Sulawesi Barat dengan menyumbang sekitar 23–25 persen dari komoditas utama hasil perkebunan.
Kolaborasi untuk Sawit Berkelanjutan
Pelatihan Implementasi ISPO Angkatan 1 dan 2 menjadi wujud kolaborasi antara BPDP, Ditjenbun, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga pelatihan dalam memperkuat kapasitas pekebun.
Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan, para peserta diharapkan memiliki pengetahuan dan kesiapan yang lebih baik dalam menerapkan prinsip ISPO di kebun masing-masing.
Penguatan kapasitas pekebun menjadi langkah penting menuju industri kelapa sawit Indonesia yang produktif, berkelanjutan, berdaya saing, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.













